Epidemiologi Flu Burung

Flu burung atau avian influenza adalah infeksi yang disebabkan oleh virus influenza yang disebarkan melalui unggas (burung). Ada banyak subtipe virus flu burung, tetapi hanya beberapa strain dari empat subtipe yang telah sangat patogen pada manusia. Jenis tersebut adalah H5N1, H7N3, H7N7 dan H9N2.

Virus ini secara alamiah terjadi pada burung. Burung liar di seluruh dunia membawa virus ini dalam usus mereka, namun penyakit flu terhadap burung liar tersebut tidak mematikan pada mereka. Akan tetapi, flu burung akan sangat menular dan dapat membuat beberapa burung peliharaan, seperti ayam, itik dan kalkun yang terserang penyakit flu, mati dengan cepat.

Kandang burung atau unggas dapat terinfeksi virus flu dari air liur, sekresi hidung serta kotoran mereka. Unggas lain pun juga dapat terserang penyakit ini jika melakukan kontak dengan sekresi atau ekskresi dari unggas yang terinfeksi, kontak dengan kotoran dan kandang yang telah terkontaminasi, serta ketika mengkonsumsi air atau pakan yang telah terkontaminasi oleh virus tersebut.

Ada dua bentu infeksi yang terjadi akibat virus flu burung ini, yaitu low pathogenic dan extremes pathogenic. Gejala yang terjadi pada low pathogenic kadang tidak dapat diteksi dan biasanya hanya menyebabkan gejala ringan seperti bulu yang kusut serta produksi telur yang menurun. Sedangkan extremes pathogenic dapat menyebar lebih cepat melalui kawanan unggas, serta dapat menyebabkan kerusakan pada beberapa organ sehingga menyebabkan kematian yang dapat mencapai 90 hingga 100 persen, dalam waktu empat puluh delapan jam.

Menurut data WHO pada 19 November 2010, telah terdapat jutaan unggas yang telah terinfeksi virus serta 302 jiwa yang telah meninggal akibat virus H5N1 ini. Flu burung telah menewaskan 300 orang di Azerbaijan, Cina, Mesir, Indonesia, Irak, Laos, Nigeria, Pakistan, Thailand, Turki dan Vietnam. Flu burung telah menyebabkan keprihatinan global, sebagai potensi ancaman pandemi.

Penyakit flu yang termasuk ke dalam subtipe influenza A virus ini, telah membunuh jutaan unggas di banyak negara, seperti di Asia, Eropa dan Afrika. Para ahli kesehatan khawatir bahwa keberadaan epidemiologi virus flu manusia dan virus flu burung (terutama H5N1) akan bermutasi sehingga memungkinkan terciptanya strain virus influenza baru yang mudah menular dan lebih mematikan bagi manusia.

Sejak wabah flu burung pertama kali terjadi pada tahun 1987, telah terjadi peningkatan jumlah Highly Patogenik Avian Influenza (HPAI) dari unggas ke manusia, yang menyebabkan infeksi berat dan fatal bagi manusia. Namun, karena ada perbedaan spesies yang signifikan antara burung dan manusia, virus ini tidak mudah menular dari manusia ke manusia. Meskipun beberapa kasus infeksi masih diteliti untuk mengetahui apakah penularan pada manusia melalui manusia dapat terjadi. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami patogenesis dan epidemiologi flu burung pada manusia.

Post a Comment